JAKARTA – IHSG anjlok 11,57 persen pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026) ke level 5.185,11. Ini adalah penurunan harian terdalam sejak krisis moneter 1998. Penyebabnya adalah pengumuman penyedia indeks global MSCI. MSCI membuka konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Tekanan jual sudah terasa sejak pembukaan perdagangan. IHSG dibuka melemah 8,01 persen ke level 5.393,92. Akibatnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit. Setelah itu, indeks tidak mampu keluar dari zona merah hingga penutupan. IHSG akhirnya kehilangan 678,67 poin dari posisi Kamis di 5.863,78.
Sepanjang pekan 12 hingga 16 Oktober 2026, IHSG merosot 14,91 persen dari 6.093,76. Selain itu, kapitalisasi pasar ikut menyusut 14,43 persen menjadi Rp9.157 triliun. Artinya, sekitar Rp1.544 triliun nilai pasar lenyap dalam sepekan. Sebanyak 812 saham melemah dan hanya 11 saham yang menguat. Sementara itu, indeks unggulan LQ45 turun 13,82 persen ke 508,56. Nilai tukar rupiah pun ikut tertekan hingga mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa itu MSCI dan standalone market yang memicu IHSG anjlok 11,57 persen?
MSCI adalah perusahaan penyedia indeks saham global yang dipakai manajer investasi di seluruh dunia sebagai acuan portofolio. Klasifikasi emerging market atau pasar berkembang menandakan sebuah pasar saham dinilai cukup besar, likuid, dan terbuka bagi investor asing.
Jika Indonesia diturunkan ke standalone market, pasar saham Indonesia dinilai memiliki persoalan mendasar. Akibatnya, Indonesia diperlakukan sebagai pasar tersendiri, di luar kategori pasar berkembang maupun pasar perbatasan. MSCI menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, aksesibilitas investasi, dan tata kelola pasar.
MSCI membuka masukan publik hingga 30 April 2027. Selanjutnya, keputusan final akan ditetapkan paling lambat 30 Juni 2027. Sementara itu, selama proses konsultasi berjalan, status Indonesia tetap sebagai emerging market.
Airlangga mempertanyakan waktu pengumuman MSCI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempertanyakan waktu pengumuman MSCI. Menurutnya, isu tersebut sama sekali tidak dibahas saat perwakilan Indonesia bertemu pejabat MSCI di Bangkok pada 13 Oktober 2026. Ia juga menyebut pengumuman itu datang lebih cepat dari perkiraan. Padahal, pengumuman tersebut semula dijanjikan pada November.
“Kita tidak boleh suudzon,” kata Airlangga. Namun, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Menurutnya, tekanan yang terjadi lebih banyak digerakkan oleh sentimen. Selain itu, perhatian utama MSCI adalah implementasi regulasi dan langkah pembenahan yang dinilai berjalan relatif lama.
OJK denda Rp2,1 triliun dan BEI pangkas ARB jadi 7 persen
Pengumuman denda ini muncul setelah IHSG anjlok 11,57 persen pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan denda administratif total Rp2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait tiga emiten. Denda terbesar dijatuhkan kepada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yakni Rp1,5 triliun. Kemudian, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp500 miliar dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp100 miliar. OJK menemukan dugaan manipulasi perdagangan saham DSSA. Selain itu, OJK menemukan pelanggaran penjatahan dalam penawaran umum saham BREN dan CUAN.
Merespons gejolak pasar, BEI menurunkan batas penurunan harga saham harian atau auto rejection bawah (ARB). Batas ARB turun dari 15 persen menjadi 7 persen. Kebijakan ini berlaku mulai Senin (19/10/2026) hingga 31 Desember 2026. Dengan aturan ini, sistem bursa otomatis menolak pesanan jual yang membuat harga saham turun lebih dari 7 persen dalam sehari. Menurut BEI, kebijakan ini memberi waktu bagi investor untuk mencerna informasi sebelum mengambil keputusan.
Selain itu, pada Minggu (18/10/2026), OJK bersama organisasi pengatur mandiri pasar modal menggelar dialog di Gedung BEI. Dialog ini melibatkan analis, ekonom, dan pemengaruh keuangan atau finfluencer. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan regulator ingin mendengar masukan secara terbuka. Tujuannya adalah memperkuat integritas pasar modal dalam negeri.
Setelah IHSG anjlok 11,57 persen, analis waspadai koreksi lanjutan
Sejumlah analis menilai IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin ini. Analis Mega Capital Sekuritas Revo Gilang Firdaus memproyeksikan indeks bisa bergerak menuju kisaran 4.938 hingga 4.987. Proyeksi ini seiring tekanan jual investor asing. Pada Jumat lalu, ketika IHSG anjlok 11,57 persen, investor asing membukukan penjualan bersih Rp2,92 triliun. Sejak awal tahun, penjualan bersih asing mencapai sekitar Rp88,19 triliun.
Meskipun demikian, peluang pemulihan tetap terbuka. Revo menilai pemulihan berbentuk V berpotensi terjadi. Namun, syaratnya pasar harus merespons positif langkah perbaikan tata kelola, mulai dari transparansi kepemilikan saham hingga penegakan aturan perdagangan.
Sumber Berita: Reuters, detikFinance, Kontan, Bloomberg Technoz, IDX Channel, Fortune Indonesia, StockWatch, Bareksa, Kompas, TradingView











