JAKARTA, XWARTA.COM – Mahasiswa dari sembilan kampus yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) menggelar aksi 2 tahun Prabowo-Gibran di Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Aksi itu mengevaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Rangkaian aksi diawali aksi simbolik di Tugu Proklamasi pada pagi hari. Massa kemudian melanjutkan aksi di kawasan Tugu Tani, Menteng, mulai pukul 15.20 WIB. Peserta membentuk barisan setengah melingkar di halaman Monumen Patung Pahlawan dan menyampaikan orasi secara bergantian.
Koalisi ini menghimpun BEM Universitas Indonesia, Keluarga Mahasiswa ITB, mahasiswa Universitas Padjadjaran, BEM Universitas Diponegoro, BEM Universitas Negeri Semarang, Serikat Mahasiswa UGM, BEM UPN Veteran Yogyakarta, BEM Universitas Airlangga, dan Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya. BEM UI menargetkan sekitar 500 peserta dalam aksi tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi 2 Tahun Prabowo-Gibran: Lima Tuntutan dan Hasil Survei 560 Responden
Komite Sadar membawa lima tuntutan utama dalam aksi 2 tahun Prabowo-Gibran. Pertama, pemerintah diminta menetapkan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional, memulihkan kesehatan warga, serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang bertanggung jawab. Kedua, mahasiswa menuntut perbaikan tata kelola kebijakan ekonomi dan pemulihan kepercayaan pasar. Ketiga, massa meminta penghentian pembatasan kebebasan berpendapat. Keempat, mereka mendesak pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kelima, mahasiswa menuntut penurunan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik serta pemerataan akses layanan.
Tuntutan itu disusun dari survei internal terhadap 560 responden dari berbagai wilayah, dari Sumatra hingga Papua. Ketua BEM UI Yatalathof Imawan menyebut 78,8 persen responden menilai pemerintahan Prabowo-Gibran beserta kabinetnya gagal. Sebanyak 71,1 persen responden menyoroti mahalnya harga kebutuhan pokok dan 62,7 persen menyoroti pembatasan kebebasan berpendapat.
Di Tugu Tani, Koordinator Sosial dan Politik BEM UI Hafidz Hernanda mengajak peserta mengangkat tiga jari sebagai simbol protes. “Tiga jari ini adalah lambang kemarahan kita dan kekecewaan kita, lambang perlawanan masyarakat atas pemimpin yang gagal,” seru Hafidz dalam orasinya. Sejumlah spanduk juga menuntut penghentian peran militer dalam program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Arus lalu lintas di Jalan Kebon Sirih, Jalan Habib Ali Kwitang, dan Jalan Menteng Raya terpantau tersendat selama aksi berlangsung.
9.505 Personel Disiagakan, Pemerintah Pamer Capaian
Polda Metro Jaya menyiagakan 9.505 personel gabungan untuk mengawal aksi tersebut. Rinciannya, 7.660 personel Polri, 1.540 personel TNI, 135 personel Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan 170 petugas pengamanan dalam. Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto menegaskan penyampaian pendapat merupakan hak warga negara yang harus dihormati dan difasilitasi. Polisi menerapkan pendekatan humanis dan persuasif serta menyiapkan rekayasa lalu lintas secara situasional.
Di hari yang sama, pemerintah memaparkan capaian dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani melaporkan realisasi investasi mencapai Rp3.923,2 triliun dan menyerap 5.485.944 tenaga kerja sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan III 2026. Paparan capaian itu menjadi jawaban resmi pemerintah di tengah kritik mahasiswa soal ekonomi dan layanan dasar.
Sumber Berita: Kompas.com, Bloomberg Technoz, Gebrak.id, Tutur.co.id, Suara Garut, Pena Merdeka











