Aksi IndonesiaSadar Jakarta akan digelar pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Aksi ini diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR). Penyelenggara memilih momentum Sumpah Pemuda untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Karena itu, aksi ini direncanakan sebagai ruang berkumpul berbagai elemen masyarakat, bukan hanya mahasiswa.
Aksi utama dijadwalkan berlangsung di Bundaran HI, Jakarta, pada pukul 14.00 WIB. Selain itu, penyelenggara juga menyiapkan titik aksi lain, yaitu kawasan DPR/MPR, Monas, dan Tugu Tani. Perkiraan jumlah peserta sekitar 2.500 orang. Jumlah itu merupakan perkiraan awal penyelenggara, dan jumlah akhir di lapangan masih bisa berubah sesuai kehadiran massa.
Aksi IndonesiaSadar Jakarta Dijadwalkan Sore Ini
Tema peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini adalah “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Tema tersebut menjadi latar semangat aksi yang direncanakan hari ini. Penyelenggara menilai pemuda perlu mengambil peran aktif dalam mengawal kebijakan publik. Selanjutnya, aksi ini diharapkan berjalan tertib dan damai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI, Namoradiarta Siahaan, menyebut Bundaran HI diharapkan menjadi ruang bersama bagi mahasiswa, buruh, petani, dan seluruh elemen masyarakat. Pernyataan itu menegaskan bahwa aksi ini dirancang terbuka untuk berbagai kelompok. Di samping itu, penyelenggara mengajak peserta menyampaikan aspirasi secara tertib dan menjaga ketertiban umum.
Lima Tuntutan yang Dibawa Massa
Pertama, massa menuntut penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional. Tuntutan ini berkaitan dengan dampak karhutla terhadap kesehatan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat. Penyelenggara menilai penanganan karhutla membutuhkan langkah yang lebih serius dan terkoordinasi.
Kedua, massa menuntut evaluasi prioritas anggaran. Mereka menilai anggaran negara harus lebih berpihak pada kebutuhan dasar masyarakat. Ketiga, massa menyoroti biaya pendidikan. Mereka meminta pemerintah memastikan pendidikan tetap terjangkau dan tidak membebani masyarakat.
Keempat, massa menuntut reformasi hukum. Tuntutan ini mencakup penegakan hukum yang adil dan tidak tebang pilih. Kelima, massa menuntut penghentian kriminalisasi dan militerisasi ruang sipil. Menurut penyelenggara, ruang sipil harus tetap terbuka bagi kritik dan kebebasan berekspresi.
Momentum Sumpah Pemuda ke-98
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum penting bagi gerakan mahasiswa. Pada 28 Oktober 1928, pemuda dari berbagai daerah mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Sementara itu, semangat persatuan tersebut kembali digaungkan dalam aksi hari ini.
Pemilihan Bundaran HI sebagai titik utama juga bukan tanpa alasan. Kawasan itu merupakan salah satu pusat aktivitas publik di Jakarta dan sering menjadi lokasi penyampaian aspirasi. Karena itu, penyelenggara berharap pesan aksi dapat tersampaikan luas kepada publik dan pemerintah.
Bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar Bundaran HI, DPR/MPR, Monas, dan Tugu Tani pada Rabu sore, penyelenggara mengimbau untuk mengantisipasi kepadatan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Selanjutnya, perkembangan aksi akan terus dipantau hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Penyelenggara juga menekankan pentingnya menjaga suasana aksi tetap damai. Massa dari berbagai latar belakang diharapkan saling menghormati dan tidak terpancing provokasi. Selain itu, peserta diimbau membawa aspirasi dengan cara yang tertib, menjaga fasilitas umum, dan membersihkan area setelah kegiatan berakhir. Sikap tersebut dinilai penting agar pesan aksi tersampaikan dengan baik dan tidak menimbulkan gangguan yang tidak perlu bagi masyarakat lain.
Aksi IndonesiaSadar Jakarta yang dijadwalkan hari ini menjadi penanda bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya dirayakan dengan upacara, tetapi juga dengan penyampaian aspirasi. Lima tuntutan yang dibawa massa akan menjadi tolok ukur apakah pemerintah mendengar dan menindaklanjuti aspirasi tersebut. Karena itu, publik menanti respons pemerintah setelah aksi ini digelar.
Sumber Berita: BEM UI, Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR)











