JAKARTA, xwarta.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Mayoritas analis menilai IHSG hari ini masih tertekan oleh ketidakpastian usulan MSCI yang akan mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pada perdagangan Senin (19/10/2026), IHSG ditutup melemah 188,5 poin atau 3,64 persen ke level 4.996,61. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 2020 atau era pandemi Covid-19, setelah indeks sempat menyentuh titik terendah 4.907,37 di tengah sesi.
Support IHSG Hari Ini di 4.800
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memetakan support IHSG di 4.800-4.900, pivot di 4.900, dan resistance di 5.050. Menurutnya, tekanan masih berpotensi berlanjut terutama jika tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar masih terjadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebaliknya jika saham-saham dengan kapitalisasi besar mulai rebound, maka IHSG berpotensi untuk rebound di atas level 5.000 pada perdagangan Selasa,” ujar Alrich.
Pandangan serupa disampaikan Pilarmas Investindo Sekuritas yang memasang support dan resistance di 4.800-5.075. CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak bervariasi cenderung melemah dengan support 4.870-4.740 dan resistance 5.120-5.250.
Ada Juga Peluang Rebound
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat peluang berbeda. Ia menilai IHSG masih berpeluang menguat dalam jangka pendek untuk menguji area 5.046 hingga 5.133. Namun ia juga mengingatkan potensi pembalikan arah yang dapat menyeret indeks ke kisaran 4.766 hingga 4.846.
Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova memperkirakan koreksi belum berakhir. IHSG mendekati target Fibonacci 200 persen di level 4.737, dengan support di 4.900, 4.767, dan 4.629.
Praktisi pasar modal William Hartanto menilai IHSG masih berada dalam tren strong bearish dengan volatilitas tinggi. Menurutnya, posisi indeks di bawah 5.000 menunjukkan technical rebound belum mengubah arah tren pelemahan.
Investor Menanti Langkah BEI
Dari sisi sentimen, investor menanti kejelasan reformasi lanjutan Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI berencana mengeluarkan 80 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Saham-saham itu memiliki bobot sekitar 18 persen terhadap indeks.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas indeks, dan bukan merupakan penghapusan pencatatan saham atau delisting. BEI sebelumnya juga mengubah batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7 persen.
Tekanan pasar juga tercermin dari arus dana asing yang keluar hampir US$5,1 miliar atau sekitar Rp92,5 triliun sepanjang tahun ini. Imbal hasil obligasi negara (SUN) tenor 10 tahun naik ke 7,47 persen, level tertinggi sejak 11 Juni lalu.
Sumber Berita: Kontan, Investor Daily, Bloomberg Technoz, Fortune Indonesia











